×
Pusat Kajian Produk Halal UNMA Banten memiliki aplikasi android pecarian produk yang sudah bersertifikat halal. silakkan di download Apk Android PKPH

Faedah Kebaikan bagi Orang Muslim

(PKPH, Jakarta)-Jabir RA. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang Muslim yang menanam tanaman, kemudian ia makan dari hasil tanaman itu termasuk sedekah baginya, juga bila hasil tanaman itu dicuri atau diambil orang, maka ia termasuk sedekah baginya.” (HR Muslim). 

Sementara dalam riwayat lain disebutkan, jika seorang Muslim yang menanam tanaman atau menabur benih kemudian hasil tanamannya itu dimakan oleh manusia, binatang, maupun sesuatu yang lain, maka semua itu merupakan sedekah baginya sampai hari kiamat. Hadis tersebut menggambarkan manfaat dari sebuah kebaikan. Tiada kebaikan sekecil apapun yang sia-sia. Setiap kebaikan yang kita lakukan, akan menemui balasan. “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Al-Zalzalah: 7).

 Sejalan dengan ayat tersebut, Rasulullah SAW menegaskan, “Janganlah engkau menganggap rendah sekecil apapun kebaikan meski hanya menunjukkan wajahmu yang berseri-seri ketika engkau bertemu dengan saudaramu.” (HR Muslim).

Ketahuilah, kebaikan itu ibarat pintu yang terhubung dengan pintu-pintu lain yang tak terbilang banyaknya. Begitu membuka satu pintu kebaikan, maka di depan kita akan muncul pintu-pintu kebaikan lain yang siap dibuka bahkan mungkin telah terbuka dengan sendirinya.

Tatkala seseorang membuka pintu sedekah, misalnya, maka akan terbuka pintu kasih sayang di antara sesama. Atau, ketika membuka dan memasuki pintu persaudaraan, maka pintu tersebut akan terhubung dengan pintu kedamaian dan kekuatan.

Seseorang yang mengerti hakikat kehidupan akan senantiasa berbuat kebaikan. Ia menyadari bahwa  kehidupan dunia sejatinya adalah ladang tempat menanam. Apa yang ditanam, itulah yang akan dipetik kemudian. Oleh karenanya, berbuat baiklah selagi kesempatan masih terbuka.

Bersegeralah dalam melakukan kebaikan. Sebab, tatkala kematian hadir menyapa, tak ada lagi kesempatan berbuat baik. Kita tak mengerti kapan maut akan datang. Baik tua maupun muda, sakit atau sehat, tak ada yang tahu siapa yang lebih dahulu dipanggil oleh-Nya. 

Menunda berbuat baik adalah petaka. Teruslah berbuat baik sebelum ajal tiba. Kebaikan adalah bekal di alam yang kekal. Mukmin sejati akan senantiasa memanfaatkan waktunya untuk berbuat kebajikan. Siang dan malam menjadi harta kekayaan mereka. Amal saleh menjadi barang berharga mereka.

Orang yang cerdas adalah dia yang benar-benar memanfaatkan usianya. Dia berharap dan berupaya untuk mengoptimalkannya dalam berbagai hal secara sempurna. Dia pergi dari rumah untuk bekerja dan berkarya mengharap ridho-Nya. Hingga ketika ajal tiba, dia bisa menikmati kebaikan yang telah dilakukannya.

Jangan sampai kita menjadi manusia yang menyesal di kemudian karena kurangnya bekal kebaikan. Siapkan perbekalan di setiap waktu. Ibnu Umar pernah mengungkapkan, “Jika engkau berada di pagi hari, jangan engkau menunggu sore hari. Jika engkau berada di sore hari, jangan engkau menunggu pagi hari.”

Ketika pagi menjelang, renungkanlah apa yang telah kita lakukan di malam hari. Berhati-hatilah, jangan sampai kita terkena penyakit “akan dan akan” karena itu merupakan jebakan iblis yang paling besar.

Wallahu a’lam.

Sumber: Republika


Tags :

Bagikan ke :
Bagikan ke :