×
Pusat Kajian Produk Halal UNMA Banten memiliki aplikasi android pecarian produk yang sudah bersertifikat halal. silakkan di download Apk Android PKPH

Daging Anjing Bukan Pangan

(PKPH, Serang)--Anjing (Canis lupus familiaris) adalah hewan mamalia yang telah mengalami domestikasi dari serigala sejak 15.000 tahun yang lalu, bahkan kemungkinan sudah sejak 100.000 tahun yang lalu berdasarkan bukti genetik berupa penemuan fosil dan tes DNA . Domestikasi anjing awalnya didorong motif saling menguntungkan oleh kedua belah pihak. Manusia purba memanfaatkan anjing untuk mengusir hewan liar pengganggu manusia. Indra anjing yang tajam menjadikan anjing bertugas sebagai penjaga manusia dari kedatangan hewan pemangsa yang selalu mengincar.  Anjing merupakan hewan sosial sama seperti halnya manusia. Kedekatan pola perilaku anjing dengan manusia menjadikan anjing bisa dilatih, diajak bermain, tinggal bersama manusia, dan diajak bersosialiasi dengan manusia dan hewan lainnya. Sehingga kini, anjing umumnya dijadikan sebagai hewan kesayangan (pet animal) oleh sebagian orang.

Beberapa negara terutama di asia, ada beberapa masyarakat yang mengkonsumsi daging anjing merupakan hal biasa.  Di beberapa daerah di Indonesia, dikenal sebagai pusatnya penjualan daging anjing untuk dikonsumsi. Tidak ada yang mengetahui secara pasti alasan mengkonsumsi daging anjing. Sebagian orang menganggap,daging anjing memiliki khasiat bagi kesehatan,Sebagian memakan daging anjing karena tradisi yang diturunkan dari keluarga dan lingkungannya.

Daging Anjing Bukan Kategori Pangan

Mengacu Undang-undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan, bahwa pangan didefinisikan segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan bahan baku pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman.  Dan menurut Food Agriculture Organitation (FAO), Ternak adalah hewan darat yang didomestikasi yang dibesarkan untuk menyediakan beragam barang dan jasa seperti daya tarik, daging, susu, telur, kulit, serat, dan bulu.

 FAO menyediakan akses gratis data pangan dan pertanian untuk lebih dari 245 negara, yang dikenal dengan FAOSTAT.  Anjing salahsatu hewan tidak ada dalam daftar sebagai ternak dalam  FAOSTAT.  Pada Undang-Undang Nomor 18 tahun 2009 junto No. 41 tahun 2014 tentang  Peternakan dan Kesehatan Hewan, ternak didefinisikan sebagai hewan peliharaan yang produknya diperuntukan sebagai pangan, bahan baku industri,jasa, dan atau hasil ikutannya yang terkait dengan pertanian. Turunan dari undang-undang  tersebut, Peraturan Pemerintah No. 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahtraan Hewan pada penjelasan pasal 5 disebutkan bahwa”hewan potong adalah hewan yang dipelihara atau dibudidayakan untuk dimanfaatkan dagingnya sebagai konsumsi manusia misalnya sapi potong, kerbau, kambing, domba kelinci, ungags potong, dan babi, hewan perah, dan ungags petelur  yang sudah tidak produktif serta termasuk jenis satwa liar yang berdasarkan peraturan perundang-undangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati diburu dan dimanfaatkan dagingnya, misalnya rusa”. Dengan demikian merujuk pada peraturan perundang-undangan tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa daging anjing tidak termasuk kategori pangan.

Sebagai bentuk kejelasan hukum semakin banyak Negara mengeluarkan undang-undang yang secara ekplisit mengakui anjing sebagai hewan kesayangan bukan sebagai hewan konsumsi, dan menghapusnya dalam daftar ‘spesies ternak’ dalam peraturan hukum.  Seperti di Negara Filipina, Taiwan, dan Hongkong telah mengeluarkan undang-undang , peraturan, dan tata cara yang secara ekplisit melarang penyembelihan , penjualan, dan mengkonsumsi anjing,sejalan dengan sentiment publik,komitmen perlindungan kesejahtraan hewan dan pemberantasan penyakit zoonosis terutama rabies.  Di Singapura terdapat Undang-Undang Perlindungan Hewan dan Keaman Pangan yang melarang penyembelihan dan konsumsi daging anjing dan kucing, yang tidak mengakui sebagai hewan konsumsi, sedangkan di India tidak ada peraturan secara ekplisit tentang pelarangan konsumsi daging anjing, namun dianggap illegal berdasarkan Peraturan Standardan Keamanan Pangan (Standar dan Aditif Produk Nakanan)  yang tidak mengakui anjing sebagai makanan konsumsi.

 

Hukum Konsumsi dan Perdagangan Anjing dalam Persektif Islam

            Bagi umat islam yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia,  daging anjing haram hukumnya untuk dikonsumsi.  Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Idris Al Khaulani dar Abi Tha’labah al Khusyani”sesungguhnya Rasulullah SAW melarang memakan binatang buas yang bertaring”. Dalam hadis lain, dari  Ubaidah Bin Sufyan  dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah bersabda “memakan setiap binatang yang bertaring adalah haram “(HR Ibnu Majjah).

            Selain haram mengkonsumsi, umat islam dilarang melakukan perdagangan anjing.  Dalam sebuah hadis dari Uqbah bin Amr RA, ‘Rasulullah SAW melarang uang hasil jual beli anjing, uang hasil melacur dan uang hasil perdukunan”. Namun ada beberapa pendapat  ulama membolehkan penjualan anjing selama memberi manfaat seperti untuk berburu atau menangkap penjahat. Menurut Imam malik, jual beli anjing hukumnya makruh sedangkan menurut imam syafi’imemandang hukum jual beli anjing haram, akan tetapi imam syafi’i membolehkan memelihara anjing dalam keadaan darurat atau diambil manfaatnya.

Oleh : Drh Jajang Deni, Medik Veteriner Muda Dinas Pertanian Provinsi Banten.

Email: jajangdeni5@gmail.com

Bahan Bacaan

Food and Agriculture Organization of the United Nations, World Livestock 2013: ChangingDisease Landscapes. Roma, 2013 (http://www.fao.org/docrep/019/i3440e/i3440e.pdf).

Subdit Kesejahteraan Hewan, 2018. Menyikapi Perdagangan Daging Anjing Di Indonesia tersedia pada http://kesmavet.ditjenpkh.pertanian.go.id/index. php/berita/berita-2?start=6 diakses pada tanggal 12 Mei i 2022.

Sutanto Y.C., 2017. Konsumsi Daging Satwa Eksotik Dan Daging Anjing, Kontroversi Serta Aspek Hukumnya tersedia pada http://kesmavet. ditjenpkh.pertanian.go.id/index.php/berita/berita-2/205-tomohon diakses pada tanggal 12 Mei 2022

Zaid, 2008. Jual Beli Anjing Dalam Perspektif Hukum Islam. Universitas Muhammadiyah Surakarta. http://eprints.ums.ac.id/3183/1/I000010026.pdf. Diunduh pada tanggal 29 Mei 2022

 

 

.

 


Tags :

Bagikan ke :
Bagikan ke :