×
Pusat Kajian Produk Halal UNMA Banten memiliki aplikasi android pecarian produk yang sudah bersertifikat halal. silakkan di download Apk Android PKPH

Mengenal Dinar dan Dirham (Bagian ke-1)

(PKPH, Cilegon)-Dinar berasal dari bahasa Yunani “denarius”, yaitu mata uang yang terbuat dari emas, sedangkan dirham berasal dari kata “drachma” yang terbuat dari perak. Dinar dan dirham berlaku sebagai alat pembayaran. Menurut hukum Islam, dinar yang dipergunakan adalah setara 4,25 gram emas 22 karat dengan diameter 23 milimeter. Standar ini telah dipergunakan oleh World Islamic Trading Organization (WITO) hingga saat ini. Sedangkan uang dirham setara dengan 2,975 gram perak murni.

Dinar dan dirham adalah mata uang yang berfungsi sebagai alat transaksi atau alat tukar yang digunakan baik sebelum datangnya Islam maupun sesudahnya. Dinar dan Dirham masih berbentuk  sederhana. Uang emas dan perak diperkenalkan oleh Julius Cesar dari Romawi sekitar tahun 46 SM. Julius Cesar jugalah yang memperkenalkan standar konversi dari uang emas dan ke uang perak dengan perbandingan 1:12 emas terhadap perak.

Uang dinar merupakan uang yang digunakan dalam transaksi perdagangan, sebelum masa  datangnya Islam.  Abdul Qadim Zallum menyatakan, dinar dan dirham telah dikenal oleh bangsa Arab sebelum datangnya Islam. Mata uang ini diperoleh dari hasil perdagangan yang mereka lakukan di negara-negara sekitarnya. Para pedagang jika pulang dari Syam membawa dinar emas Romawi (Byzantium), dan dari Irak membawa dirham perak Persia (Sassanid). Dengan demikian sudah banyak mata uang asing yang masuk berupa dinar emas Romawi dan dirham perak Persia.

Ketika Rasulullah SAW datang sebagai tanda kedatangan Islam, beliau mengakui berbagai transaksi yang menggunakan dinar Romawi dan dirham Persia, serta standar timbangan yang berlaku di kalangan kaum Quraysy untuk menimbang berat dinar dan dirham. Sehubungan dengan hal ini, Rasulullah bersabda, “Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran adalah takaran penduduk Madinah” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i).

Dalam sejarah umat Islam, Rasulullah dan para sahabat menggunakan dinar dan dirham sebagai mata uang mereka. Di samping sebagai alat tukar, dinar dan dirham juga dijadikan sebagai standar ukuran hukum-hukum shar’i, seperti kadar zakat dan ukuran pencurian. Kaum muslim terus menggunakan dinar Romawi dan dirham Persia dalam bentuk cap dan gambar aslinya sepanjang hidup Rasulullah SAW dan dilanjutkan oleh masa kekhalifahan Abu Bakar dan pada kekhalifahan ‘Umar bin Khattab.

Pada masa pemerintahannya, khalifah ‘Umar bin Khattab pada tahun 20 hijriah, yaitu tahun kedelapan kekhalifahan ‘Umar bin Khattab mencetak uang dirham baru berdasarkan pola dirham Persia. Berat, gambar, maupun tulisan Balawinya (huruf Persia) tetap ada, hanya ditambah dengan lafazh yang ditulis dengan huruf Arab gaya Kufi, seperti lafaz Bismillah dan Bismillahi Rabbi yang terletak pada tepi lingkaranya. Beliau juga memberi gambar tambahan bertuliskan Alhamdulillah dan dibaliknya bertuliskan Muhammad Rasulullah SAW.

Pada awal kekhalifahan ‘Umar pernah muncul pemikiran untuk mencetak uang dari kulit, namun dibatalkan karena tidak disetujui oleh para sahabat yang lain. Mata uang khalifah Islam yang mempunyai cirian khusus baru dicetak oleh khalifah Ali bin Abi Thalib, namun peredaranya sangat terbatas karena kondisi politik pada masa tersebut.

Mata uang dengan gaya Persia dicetak pula di zaman Mu’awiyah dengan dicantumkan gambar dan nama kepala pemerintah pada mata uang. Mata uang yang beredar pada waktu itu belum berbentuk bulat seperti uang logam sekarang ini. Baru pada zaman Ibn Zubair dicetak untuk pertama kalinya mata uang dengan bentuk bulat, namun peredarannya terbatas di Hijaz. Sampai dengan zaman ini mata uang khalifah beredar bersama dengan dinar Romawi, dirham Persia.

Barulah pada zaman ‘Abd al-Malik, pemerintah mendirikan tempat percetakan uang, dan mata uang khalifah dicetak secara terorganisir dengan pengawasan pemerintah. Beliau mencetak dirham khusus bercorak Islam pada tahun 75 Hijriah, dan meninggalkan pola dinar Romawi. Gambar-gambar dinar lama diubah dengan tulisan dan lafaz-lafaz Islam, seperti Allah Ahad dan Allah Baqa’. Sejak itulah orang Islam memiliki dinar dan dirham Islam yang secara resmi digunakan sebagai mata uangnya. Dalam perjalanannya sebagai mata uang yang digunakan, dinar dan dirham cenderung stabil dan tidak mengalami inflasi yang cukup besar kurang waktu 1500 tahun.

Bersambung.....

 


 


Tags :

Bagikan ke :
Bagikan ke :